Kesenian Gong Kebyar Desa Kedis

GONG KEBYAR DESA KEDIS DI DALAM DUNIA KEKEBYARAN

dikutip dari > http://blog.isi-dps.ac.id

 

putra_kendang A

Gong Kebyar adalah sebuah ansambel gamelan Bali yang memiliki kefleksibelitasan yang paling tinggi. Sebab, gamelan yang pertama kali muncul di daerah Buleleng Dangin Enjung ini (Buleleng Timur) kian mengalami perkembangan yang begitu pesat baik dari segi fisiknya, maupun dari gaya musikalnya. Tidak hanya itu, jika kita bertanya pada seseorang, gamelan apa yang paling banyak digemari, maka sudah dapat  dipastikan jawabanya adalah Gong Kebyar. Hal ini terbukti dari masing-masing banjar yang sudah memiliki gamelan golongan baru ini. Tidak hanya itu, bahkan sekarang tiap-tiap sekolah, Universitas, maupun instansi-instansi kepemerintahan sudah memiliki Gong Kebyar. Munculnya Gong Kebyar di Bali Utara karena evolusi dari gamelan Gong Gede tidak serta merta dapat dijadikan suatu acuan menentukan gaya musikalnya. Sebab, berdasarkan fakta yang ada, pengaruh gamelan dari golongan madya yang lainnya masih dapat dirasakan, seperti gamelan Palegongan. Hal ini terbukti dari iringan Tari Wiranjaya yang diciptakan didesa Kedis pada tahun 1947.

Secara historis, Tari Wiranjaya dulunya (sebelum zaman revolusi) bernama Tari Kebyar Buleleng Dauh Enjung. Runtutan iringan musiknya menyerupai Kebyar Buleleng Dangin Enjung (Kebyar Legong). Namun setelah zaman revolusi, Tari Kebyar Buleleng Dauh Enjung ini disempurnakan menjadi Tari Wiranjaya oleh Bapak I Putu Sumiasa. Penyempurnaan yang dimaksud adalah mempersingkat periodisasi (limit waktu) reportoarnya, dengan tidak menghilangkan inti dan makna dari tari tersebut, sehingga menjadi seperti Tari Wiranjaya yang kita kenal sekarang ini. Tidak hanya Tarianya, pengaruh palegongan yang dipadukan dengan ekspresi ngebyar juga dirasakan pada Tabuh Kreasi ciptaan Kedis. Banyak Tabuh kreasi ciptaan Kedis yang dalam struktur musikalnya terdapat suatu pola gegenderan, yang dinamis, lembut, dan penuh dengan aksentuasi-aksentuasi sebagaimana gamelan Palegongan itu sendiri. Satu hal yang mencirikan tabuh kreasi dan tabuh iringan ciptaan Ketut Merdana dan Putu Sumiasa adalah dimasukkanya gegendingan Jawa pada bagian pengawak, ataupun pelayonan tabuhnya. Masuknya pengaruh Kejawen pada banyak karya I Ketut Merdana dan Putu Sumiasa adalah disebabkan karena pada masa itu beliau sering pergi ke Jawa untuk mengirim barang. Di sanalah beliau banyak mendapat inspirasi yang nantinya beliau tuangkan ke sebagian besar karyanya.

Dari segi kekaryaan, ciptaan Buleleng Barat selalu bersaing dengan ciptaan Buleleng Timur, seperti apa yang dikatakan oleh Prof.Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si dalam bukunya yang berjudul “Gong Kebyar Buleleng : Perubahan dan Keberlanjutan Tradisi Gong Kebyar” yang menyebutkan :

Dangin Enjung menciptakan tari dan gending Trunajaya, Palawakya, dan Cendrawasih Bercumbu Rayu. Sedangkan Dauh Enjung melalui Ketut Merdana, Nyoman Sukandia,dan Putu Sumiasa dari Desa Kedis menciptakan gending dan tari Wiranjaya, Palawakya, dan Nelayan. Dalam kekaryaan, seniman dari kedua daerah budaya tersebut saling bersaing, apalagi pada saat mebarung masing-masing merasa bermusuhan tetapi hubungan individu sangat baik (Pande Sukerta, 2009 : 258).

Mencermati tulisan diatas, maka sudah dapat dipastikan Desa Kedis memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan Gong Kebyar di Kabupaten Buleleng. Hal ini terbukti dari banyaknya karya yang tercipta dari ketiga seniman Desa Kedis itu. Dari segi musikalitas, gending Buleleng Barat cenderung lebih lambat dibanding gending-gending Buleleng Timur. Hal ini dikarenakan letak geografis Buleleng Barat khusunya Desa Kedis yang berdekatan dengan Desa Bantiran, Pupuan, Kabupaten Tabanan, yang secara tidak langsung berpengaruh pada rasa musikalitas tabuh itu sendiri.

Sebelum kepada hasil dan pembahasan, maka secara spesifik lagi perlu diketahui gambaran mengenai Tabuh, maupun tabuh Tari dari ciptaan Ketut Merdana (alm), Nyoman Sukandia (alm), dan Putu Sumiasa, yang mana tabuh dan tarian inilah yang berhasil direkonstruksi dan disempurnakan oleh Putu Sumiasa bersama anaknya Dr. Dra Ni Luh Sustiawati M.Pd. Tabuh dan Tarian yang dimaksud adalah :

1.      TARI WIRANJAYA
Sebelum Gestok, tari ini bernama Kebyar Buleleng Dauh Njung, hal ini di karenakan pada masa itu, seniman Pan Wandres  menciptakan sebuah reportoar Kebyar Buleleng Dangin Njung yang kemudian di kembangkan dan di sempurnakan oleh Bapak I Gede Manik menjadi Terunajaya. Ini Merupakan bentuk persaingan secara sehat dibidangnya oleh dua seniman besar ini. Namun setelah zaman Gestok, tari ini di kembangkan oleh Bapak Putu Sumiasa dan Di beri nama Wiranjaya sebagai “Trunanya” Dauh Njung. Bentuk asli dari tari ini adalah menyerupai Kebyar Legong karya Pan Wandres tapi tidak sama. Hampir semua karya beliau merupakan perpaduan antara gending jawa dan Bali. Mengingat pada zamannya beliau sering pergi ke Jawa untuk mengirim barang. Hal inilah yang di jadikan acuan untuk mengetahui cirri khas dari karya – karya sang maestro, yang banyak melibatkan polagegendingan jawa    ( Melodi Jawa ).

2.      TARI MERPATI
Merpati adalah sebuah burung, setiap hari bangun pagi dan di tandai dengan bunyi jam. Tari ini di ciptakan karena pada waktu itu buleleng timur mempunyai tari Cendrawasih Bercumbu Rayu Oleh Bapak Gede Manik. Tari ini tergolong unik, karena pada awal dari tabuh tari ini menyerupai suara jam besar   ( jam dinding besar ). Struktur dari tabuhnya menyerupai  bebatelan legong kraton sebagai penyalit dan pekaad ( ending). Di samping  tabuhnya yang unik, struktur tari ini adalah melakonkan penari putri sebagai burung merpati dan satu orang penari putra sebagai burung garudanya. Tari ini baru ini di gali dan di angkat kembali oleh seniman desa Kedis ( Bapak Putu Sumiasa ) dan anak beliau DR dra Ni LuhSustiawati sebagai peñata dan penyempurna tarinya. Ni Luh Sustiawati merupakan salah satu dosen tari di ISI Denpasar, dan anak pertama dari Bapak Putu Sumiasa.

3.      TARI TENUN KEDIS
Tari Tenun versi Kedis sebenarnya hampir sama dengan yang aslinya. Hanya saja pada bagian inti ( pengawak ) saat menenun dari tari ini sedikit di aransemen  ( making a new version ) dengan menambahkan sedikit gending jawa.

Namun demikian, pada saat di wawancarai oleh penulis, Bapak Ketut Sumirta yang tidak lain anak bungsu dari Bapak Ketut Merdana menegaskan bahwa tari Tenun yang meciptakan ialah tetap pencipta aslinya yakni Nyoman Likes. Tetapi, Bapak Ketut Merdana dan Bapak Putu Sumiasa hanya sedikit memberikan perubahan guna mepertegas karakter ataupun ciri khas dari pada garapan-garapan beliau.

4.      TARI PALAWAKYA
Tari Palawakya Kedis merupakan sebuah tari yang tak lain diciptakan untuk menyaingi Tari Palawakya Buleleng Timur ( Jagaraga ). Namun tak di ketahui secara persis mana yang lebih dulu tercipta. Pada akhir dari Palawakya Kedis ini tidak mempergunakan gilak pepanggulan seperti halnya Palawakya Jagaraga, dan tak terdapat pola permaian terompong secara solo. Bentuk awal dari reportoar Tari ini adalah Kebyar, dan pada bagian pengawak banyak terdapat pola kendangan tunggal   (Pengiwa). Tari ini adalah karya almarhum Bapak Ketut Merdana dan Bapak Putu Sumiasa yang tidak memakai pakem atau pola gegendingan Jawa ( Kejawen ). Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa lahirnya tari palawakya kedis ini adalah dalam masa penjajahan dan sebelum G30SPKI.

5.      TABUH KREASI GAMBANG SULING
Tabuh kreasi Gambang Suling merupakan hasil ciptaan Bapak Ketut Merdana yang di ciptakan sekitar tahun 1950-an dan marupakan prpaduan antara tabuh Bali dan Jawa. Pada awal penciptaanya tabuh ini hanya terdiri dari kawitan dan pengawak saja, namun, seiring perkembangannya, tabuh ini di berikan pekaad oleh Bapak Wayan Beratha. Tabuh ini berisi pola permaian suling Jawa pada pengawaknya. Lagu Gambang Suling disajikan pada bagian akhir yang disajikan dengan tempo yang pelan dan tanggung disajikan berulang-ulang (Pande Sukerta, 2009:213).

6.      TABUH KREASI KUNTUL ANGELAYANG
Gending Kuntul Angelayang diciptakan oleh Putu Sumiasa. Dalam gending tersebut penciptaanya menggunakan lagu Jawa Lela Ledhung yang biasanya dinyanyikan untuk menidurkan anak. Pada Gending Kuntul Angelayang, lagu Lela Ledhung diletakan pada bagian akhir, yang disajikan berulang-ulang dengan tempo tanggung (Pande Sukerta, 2009:213).

About Dian Permana Putra

Hare Krishna . . . :)

Posted on 19 September 2014, in Balinese Culture & Religion, Citation Article. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: